Desa
Kedisan di Bali merupakan desa wisata yang dianggap ideal untuk menikmati
keindahan Danau Batur dari dekat. Selain itu, Desa Kedisan juga berfungsi
sebagai tempat singgah sebelum mendaki Puncak Gunung Batur. Desa Kedisan
sendiri berada di kawasan wisata Kintamani, Kabupaten Bangli.
![]() |
| Sumber Gambar : as-photograph.blogspot.com |
Adapun Desa
Kedisan menawarkan suguhan alam yang hijau dan udara pegunungan yang sejuk. Di
kawasan ini, Anda dapat mengarungi Danau Batur dengan perahu, bersepeda mengelilingi
danau, ataupun trekking menjelajahi hutannya. Kombinasi pemandangan Danau Batur
dan Gunung Batur, hijaunya alam pegunungan, dan udara sejuknya, menjadikan Desa
Kedisan sangat layak untuk dikunjungi.
Restoran Apung
Restoran Apung yang menjadi bagian sebuah resor disebut-sebut sebagai
ikon Desa Kedisan sehingga tak boleh terlewatkan. Adapun restoran yang terapung
di atas Danau Batur ini menawarkan sensasi menyantap sajian yang berbeda,
dengan pemandangan Gunung Batur dan alam yang mempesona. Sesekali mungkin Anda
akan merasakan alunan arus danau. Tapi tak mengapa, itulah sensasinya. Adapun
sebagian besar menu Restoran Apung ini adalah ikan tawar yang disajikan dalam
berbagai cara, baik bakar maupun goreng. Dan biasanya ikan nila dan ikan
mujair-lah yang paling banyak disajikan.
Desa Trunyan
Di tepian Danau Batur terdapat dermaga kecil yang menjadi titik untuk
memulai penyeberangan ataupun tur berkeliling danau. Ada banyak perahu kecil
yang siap mengantarkan Anda berkeliling Danau Batur selama 2 jam. Dari dermaga
ini juga Anda dapat menyeberang menuju desa unik yakni Desa Trunyan. Tradisi
penguburan di desa ini membuatnya menjadi unik, dimana mayat-mayat tidak
dikremasi sebagaimana umumnya dilakukan warga Bali. Di Desa Trunyan,
mayat-mayat disimpan di dalam batu besar yang memiliki 7 buah cekungan.
Uniknya, mayat-mayat tersebut tidak berbau busuk. Konon, Pohon Taru Menyan di
Desa Trunyan mampu menetralisir baunya. Melangkahlah lebih dalam untuk melihat
jejeran tengkorak manusia dan tulang-tulang lainnya. Bila beruntung, Anda dapat
menemukan mayat yang masih baru dimakamkan. Namun perlu diketahui bahwa tidak
semua mayat dimakamkan di tempat ini. Hanya mereka yang meninggal secara wajar
saja yang dapat dimakamkan di sini. Sementara mereka yang meninggal karena
kecelakaan ataupun hal tidak wajar lainnya akan dimakamkan di Seme Cerik.
Semenjak tradisi Desa Trunyan muncul ke permukaan, ada banyak wisatawan yang
penasaran dan mengunjungi Desa Trunyan untuk membuktikan keunikannya secara
langsung
Ngusabha Tegen
Datanglah pada bulan
Agustus atau September untuk menikmati wisata budaya Desa Kedisan. Pada dua
bulan ini, Desa Kedisan mengadakan upacara Ngusabha Tegen sebagai bentuk ucapan
syukur kepada Dewi Kesuburan yang bertempat di Pura Dalem Prajapati. Dalam upacara
itu, ribuan warga akan memikul sesajen sebagai persembahan ke lokasi upacara.
Biasanya sesajen tersebut berupa sayuran, buah, ikan, dan sebagainya. Adapun
semua persembahan dalam bentuk makanan harus dimasak dengan cara dikukus atau
dibakar. Uniknya, semua sesajen harus serba dua puluh dan harus dihaturkan oleh
seluruh kaum pria di Desa Kedisan.
Selain sebagai bentuk persembahan, upacara
ini juga sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kemakmuran. Secara
turun-temurun, Ngusabha Tegen dilangsungkan berdasarkan tradisi yang tersurat
pada Lontar Siwa Purana. Uniknya lagi, selama prosesi upacara berlangsung,
diadakan pula cacah jiwa dengan membayarkan uang kepeng. Berdasarkan jumlah
uang kepeng yang terkumpul, jumlah penduduk Desa Kedisan akan diketahui. Setelah
terkumpul, uang kepeng tersebut ditanam di halaman pura sebagai bentuk laporan
jumlah masyarakat kepada Ida Bhatara yang ada di Pura Dalem.
Kesenian
Desa Kedisan
tak hanya bicara soal alam dan tradisi leluhur. Desa Kedisan juga merupakan
desa kesenian yang menghasilkan kerajinan patung kayu, yang dapat Anda temukan
di Banjar Bayad, Gianyar. Ada berbagai jenis patung yang dihasilkan Desa
Kedisan, antara lain Patung Buddha, Patung Gajah, Kucing, dan lain sebagainya.
Selain kerajinan patung kayu yang telah ada sejak 1970-an, Desa Kedisan juga
membuat kerajinan mozaik berbahan kaca.
Di samping seni pahat, masyarakat Desa
Kedisan juga melestarikan Kesenian Gambuh, yakni kesenian tari yang dipadukan
dengan musik gamelan. Desa Kedisan
Kintamani berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Denpasar. Untuk
mencapainya, Anda dapat berkendara selama 1 jam perjalanan. Itulah Desa
Kedisan, desa cantik di kaki Gunung Batur Kintamani.

0 komentar:
Posting Komentar